Selasa, 04 Februari 2014

Bahasa Tubuh


       Manusia selalu berinteraksi dengan orang lain sepanjang hari pada setiap kejadian dalam kehidupan. Interaksi sosial dapat terjadi melalui kontak sosial dan komunikasi. Dalam berinteraksi, setiap manusia tidak selalu mengerti apa yang orang lain pikirkan atau mereka pun tidak selamanya mengetahui apa yang ada dalam benak seseorang. Jika kita tidak memiliki persepsi sosial yang baik, mungkin kita akan mengalami kegagalan berulang-ulang: kalah dalam persaingan, gagal dalam wawancara kerja, kesulitan menjalin hubungan atau kehilangan kepercayaan. Akan tetapi, bila kita bisa mengasah persepsi itu, belajar “membaca” orang lain dengan lebih baik dan lebih efektif dalam berkomunikasi maka semua pengetahuan itu akan membantu setiap bagian dalam kehidupan kita. Kita akan mulai menikmati peluang karir yang lebih menarik, persahabatan yang lebih tulus, masa depan hubungan yangan lebih baik, bahkan keberhasilan bertubi-tubi dalam pekerjaan.[1]

         Dalam mempersepsi manusia, kita tidak hanya melihat melalui bahasa verbalnya: bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu berbahasa asing, dan sebagainya), namun juga melalui perilaku non-verbalnya. Pentingnya pesan non-verbal ini misalnya dilukiskan frase,”Bukan apa yang ia katakan, melainkan bagaimana ia mengatakannya”. Melalui perilaku non-verbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia sedang bahagia, bingung atau sedih. Kesan awal kita pada seseorang sering didasarkan perilaku non-verbalnya, yang mendorong kita untuk mengenal lebih jauh.[2]

       Perhatikanlah orang-orang sukses yang melintas di depan  kita setiap harinya. Sebagian besar dari mereka memiliki sedikitnya dua kesamaan. Pertama, mereka memiliki kesadaran yang tinggi. Mereka nyaman dengan diri mereka sendiri. Kedua, kemampuan mereka dalam bergaul dengan orang lain berada diatas rata-rata. Mereka tahu cara membuat orang lain merasa nyaman dan bisa segera menciptakan rasa saling memahami.Kedua ciri itu berkembang dari bahasa tubuh yang kuat. Kemampuan untuk mendeteksi tanda-tanda yang muncul pada tubuh seseorang sangatlah penting, ketika sesuatu yang mereka lakukan tidak efektif maka mereka akan  belajar bagaimana menyesuaikan tindakan untuk memaksimalkan kesempatan itu.[3]

Pemahaman tentang Bahasa Tubuh 

R.D. Laing mengungkapkan  “ Manusia selalu memikirkan orang lain dan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya dan apa yang orang lain pikirkan tentang apa yang ia pikirkan mengenai orang lain itu dan seterusnya”. Dengan kata lain, manusia senantiasa mempersepsi dan memastikan makna pesan orang lain. Janine Driver (2010) mengungkapkan bahwa tanpa berkata-kata, seseorang berkata lebih daripada apa yang kita kira. Hal serupa juga diungkapkan oleh Lord Chesterfield (1694-1773)  bahwa Jangan hanya memperhatikan apa yang dikatakan orang, perhatikan juga cara orang itu mengatakannya. Dengan mencermatinya, kau akan menemukan lebih banyak kebenaran dengan mata daripada telingamu. Orang bisa berkata apa saja, tetapi tidak selalu bisa terlihat seperti apa yang ia ucapkan dan bahasa tubuhnya seringkali menungkap apa yang tersembunyi dibalik kata-katanya.

            Bahasa Tubuh merupakan bagian dari komunikasi nonverbal. Menurut  Alo Liliweri,  bahasa tubuh adalah gerakan;tubuh yang merupakan sebagian perilaku nonverbal (termasuk yang anda miliki) dapat disampaikan melalui simbol komunikasi kepada orang lain. Bidang yang menelaah bahasa tubuh adalah Kinesika (kinesics), suatu istilah yang diciptakan seorang perintis studi bahasa nonverbal, Ray L. Birdwhistell. Setiap anggota tubuh seperti wajah (termasuk senyuman dan pandangan mata), tangan, kepala, kaki dan bahakan tubuh secara keseluruhan dapat digunakan sebagai isyarat simbolik. Karena kita hidup, semua anggota tubuh kita bergerak. Lebih dari dua abad yang lalu Blaise Pascal menulis bahwa tabiat kita adalah bergerak; istirahat sempurna adalah kematian (Mulyana, 2008:353). Menurut S.Onong U. Effendy, Komunikasi kinesik adalah komunikasi yang dilakukan dengan gerakan anggota tubuh; salah satu jenis komunikasi nonverbal.

Kita tidak dapat tidak berkomunikasi; setiap perilaku punya potensi untuk ditafsirkan. Dalam bukunya Goffman mengatakan: Meskipun seseorang dapat berhenti berbicara, ia tidak dapat berhenti berkomunikasi melalui idiom tubuh; ia harus mengatakan suatu hal yang benar atau salah. Ia tidak dapat tidak mengatakan sesuatu. S. John Napier (1550-1617) mengungkapkan, apabila bahasa diberikan kepada manusia untuk menyembunyikan pikirannya, maka gerakan tubuh ditujukan untuk mengungkapkannya. Menurut Sigmund Freud, tidak ada manusia yang bisa menyimpan rahasia bila bibirnya diam. Ia akan berceloteh dengan ujung jarinya. Rahasia terbersit dari seluruh pori-pori kulitnya. Dalam hal ini, membaca isyarat bahasa tubuh tidak diartikan membantu seseorang dalam membaca pikiran, namun lebih kepada bagaimana “membaca” orang lain dengan lebih baik (akurasi) dan secara otomatis membantu seseorang bertindak dengan cara terbaik (aplikasi), kuncinya adalah dengan menciptakan rasa percaya diri.

            Kesalahan yang paling banyak terjadi adalah mencoba membaca bahasa tubuh secara terisolasi, dan membuat penilaian yang terlalu tergesa-gesa. Misalnya : ada keyakinan yang tersebar luas, misalnya bila lengan atau kaki seseorang disilangkan, berarti mereka takut atau gelisah. Menginterpretasikan bahasa tubuh tidak sesederhana itu, dan psikologi amatir seperti ini dapat menimbulkan kebingungan, yang terpenting adalah jangan mencoba untuk mempelajari sinyal individual. Sebaiknya amati bahasa tubuh dalam arti scenario, sama yang seperti kita lakukan dalam pergaulan sehari-hari, ketika setiap potong bahasa tubuh diuraikan saat berkembang dalam situasi spesifik maka jarang secara terisolasi. Kesalahan umum lain adalah gagal untuk memonitor bahasa tubuh dalam suatu periode waktu. Untuk mengenali sinyal bahasa tubuh, misalnya marah adalah satu hal, tetapi tidak terlalu banyak manfaatnya kecuali anda dapat juga menentukan sejauh mana kemarahan itu dan perkembangannya.  Dengan kata lain, bahwa dalam membaca orang lain, kita tidak hanya berpaku pada satu isyarat saja, karena hal tersebut tidak dapat mengungkapkan secara keseluruhan.Salah satu dari banyak manfaat mempelajari bahasa tubuh adalah meningkatkan kesadaran anda mengenai diri sendiri dan kesadaran anda mengenai orang lain. Kedaan itu akan membuat semua pertemuan kita dengan orang lain menjadi lebih menarik dan lebih memberikan hasil.

 Bentuk- Bentuk Bahasa Tubuh        

        Ada tiga bentuk dan tipe umum bahasa tubuh yakni : (1) kontak mata, (2) ekspresi wajah, (3) gerakan anggota tubuh. (Beliak dan Baker, 1981).     

I.     Kontak mata
            Kontak mata mengacu pada sesuatu yang disebut dengan gaze, meliputi suatu keadaan penglihatan secara langsung antar orang (selalu pada wilayah wajah) disaat sedang berbicara. Melalui kontak mata anda dapat menceritakan kepada orang lain suatu pesan sehingga orang akan memperhatikan kata demi kata melalui tatapan. Jumlah dan cara-cara penataan mata berbeda dari seseorang dengan orang yang lainnya, dari budaya yang satu ke budaya lain Berbagai studi menunjukkan bahwa orang memandang orang lain disaat percakapan sekitar 50-60 persen. Bagi pembicara digunakan 40 persen dan bagi pendengar kira-kira 70 persen penglihatan. Mata seolah-olah membuat kontak yang saling memberikan reaksi. Kontak mata sebagai simbol komunikasi nonverbal mempengaruhi perilaku, kepercayaan dalam berkomunikasi. Beberapa anggapan menyatakan bahwa mata merupakan kata hati.

II.     Ekspresi wajah
         Ekspresi wajah meliputi pengaruh raut wajah yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara emosional atau bereaksi terhadap suatu pesan. Wajah setiap orang selalu menyatakan hati dan perasaannya. Wajah ibarat cermin dari pikiran, dan perasaan. Melalui wajah orang juga bisa membaca makna suatu pesan. Pernyataan wajah menandai masalah ketika : (1) ekspresi wajah tidak merupakan tanda perasaan (2) ekspresi wajah yang dinyatakan tidak seluruhnya/tidak secara total merupakan tanda pikiran dan perasaan. Penampilan wajah sangat tergantung pada orang yang menanggapi atau menafsirkannya. Ekspresi wajah juga dapat kita lihat ketika kita memandang seseorang yang  dianggap sebagai orang yang polos/lugu atau dianggap kejam/dingin. Hal ini didasari oleh sebuah ekspresi wajah yang nampak pada orang yang bersangkutan tidak menunjukkan sebuah perubahan seperti yang dilakukan oleh orang lain ketika mendengar atau mengetahui suatu peristiwa baik kesedihan maupun kegembiraan, keanehan atau kelayakan.  

III.     Gerakan Angggota Tubuh
           Gerakan anggota tubuh atau gesture merupakan bentuk perilaku nonverbal pada gerakan tangan, bahu, jari-jari. Kita sering menggunakan gerakan anggota tubuh secara sadar maupun tidak sadar untuk menekankan suatu pesan, misalnya ketika seseorang menceritakan sesuatu sambil gerak tangannya yang menunjukkan tinggi dan ekspresi wajah yang gembira. Gerak tangan yang menunjukkan tinggi ini tidak akan memiliki arti tanpa disertai ungkapan verbal, jadi tindakan ini disengaja dan memiliki makna tertentu. Lain halnya dengan ekspresi wajah yang gembira, yang dapat berdiri sendiri dan dapat diartikan tanpa bantuan pesan verbal. Meskipun demikian, kedua tindakan tersebut telah menambahkan kepada makna yang berkaitan dengan interaksi antara kedua orang tersebut, hal ini disebut oleh  Paul Ekman dan Friesen sebagai `expressive behavior'. Selanjutnya, Ekman dan Friesen mengidentifikasi lima kategori dari expressive behavior yaitu emblem, ilustrator, regulator, adaptor, dan penggambaran perasaan (affect display), di mana masing-masing memberikan kedalaman pada makna yang berkaitan dengan situasi komunikasi.

  1. Emblem merupakan gerakan tubuh yang langsung membentuk symbol yang setara dengan symbol verbal, seperti membentuk lingkaran dengan jari jempol dan telunjuk sebagai simbol “OK“, dan membentuk huruf “V” dengan telunjuk dan jari tengah sebagai symbol “victory”.
  2.  Illustrator berfungsi memperkuat pesan verbal yang disertainya. Sebagai contoh, untuk merujuk sesuatu yang ada disebelah kiri, dia dapat menggerakkan tangan, atau kepala, atau tubuh kearah kiri. Ada 8 bentuk ilustrator yang perlu diperhatikan:
1.   Batons merupakan suatu gerakan yang menunjukkan suatu tekanan tertentu pada suatu pesan yang disampaikan.

2.      Ideographs adalah gerakan yang membuat peta atau mengarahkan pikiran.
3.      Deitic Movements adalah gerakan untuk menunjukan sesuatu.
4.      Apatial Movements adalah gerakan yang melukiskan besar atau kecilnya ruangan.
5.      Kinetographs adalah gerakan yang menggambarkan tindakan fisik
6.      Rhytmic Movements adalah gerakan yang menunjukkan suatu irama tertentu
7.      Pictographs adalah gerakan yang menggambarkan sesuatu di udara
8.  Emblematic Movements adalah gerakan yang menggambarkan suatu pernyataan verbal tertentu.        

  1. Regulator merupakan gerakan yang digunakan untuk memonitor, mengkoordinasi, mengontrol, atau mempertahankan jalan pembicaraan. Anggukan kepala, misalnya, bisa bermakna agar lawan bicara meneruskan komentarnya.
  2. Adaptor merupakan gerakan yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan personal, seprti menggarut kulit tangan yang gatal atau menyingkirkan rambut dari pelupuk mata.   
  3. Affect display merpakan gerakan wajah atau tangan, atau anggota tubuh lain yang dignakan untuk menyampaikan pesan emosional, seperti tersenyum untuk meunjukkan rasa puas, atau mengacungkan tinju ke udara untuk menunjukkan tekad atau menantang orang lain.











[1] Driver, Janin. Mariska Van Aalst, 7 Hari Pintar Membaca Pikiran, terj.Edrijani (Bandung: Kaifa, 2012), hal 10.
[2] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Bandung: Rosda, 2008), hal.352.
[3] Driver, Janin. Mariska Van Aalst, Op.Cit., hal 10.


     

Kamis, 19 Desember 2013

Krisis Demokrasi dan Komodifikasi Budaya di Televisi (Sebuah Resume)




        Sebagai bentuk kemajuan teknologi, televisi merupakan media komunikasi yang berfungsi memberikan informasi atas hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh khalayak, menafsirkan  apa yang patut disampaikan kepada khalayak dan  sebagai media pendidik yang menjembatani tata nilai dan budaya. Setidaknya inilah pendapat Harold D. Laswell ketika mengungkapkan fungsi dari televisi. Selayaknya memang demikian, dengan televisi kita dapat mengetahui dengan cepat peristiwa yang ada dibelahan dunia, namun pertanyaannya adalah apakah televisi benar-benar menanyakan sebuah realitas dan apakah fungsinya sebagai pendidik benar-benar ada?


Televisi dipenuhi oleh stasiun stasiun TV yang menampilkan banyak program-program acara dan tentu saja spot-spot iklan. Keberadaannya pun dapat kita temui dengan mudah, televisi kini dipanjang hampir disetiap rumah, pertokoan, cafe-cafe ibukota bahkan diapotik sekalipun. Televisi seolah-olah menjelma menjadi “teman hidup” masyarakat menemani anda disaat menikmati waktu luang atau menjalani kebersamaan dengan keluarga. Mungkin anda pun akan hafal dengan semua tayangan di televisi bahkan dengan antusias nya akan menunggu acara atau idola yang menjadi kegemaran anda. Kini televisi menjadikan penonton sebagai penikmat bahkan pemakai setia.

Namun sadarkah anda bahwa TV  telah membalik logika: Jika dahulu, kita yang menonton televisi namun kini, televisi-lah yang menonton manusia. Hal ini pula yang  dikatakan oleh Jean Baudrillard dan saya sependapat dengan ungkapan tersebut. Pada perkembangannya, televisi kini hanya menjadi sarana komoditi industri. Penyiaran yang luas membuat televisi menjadi media yang amat menarik bagi para pengiklan. Mereka menjadikan televisi sebagai wahana pencitraan, memanipulasi produk dengan begitu menawan. Perlahan tapi pasti televisi menggiring penikmatnya untuk memproyeksikan diri seolah-olah menjadi bagian dari citra yang hendak dibangun.

Sebagai contohnya adalah bagaimana TV menertawakan anda  ketika mempertontonkan produk-produk terbaru dan membandingkannya dengan produk ketinggalan zaman, seketika pula TV akan menyihir anda untuk senantiasa haus akan sesuatu yang baru, untuk kemudian memilikinya dan membuang sesuatu yang sudah dianggap kuno. Televisi menuntun seseorang untuk mempercayai apa yang ditampilkan. Berbagai iklan mendorong seseorang untuk selalu membeli, berbelanja dan hidup dalam gaya yang tak pernah puas. Bahkan televisi menjadi ajang komoditas yang dipaketkan, dimana bukan hanya produk yang diiklankan tetapi juga figur sang bintang

Berbagai perkara perlawanan, kekerasan, kriminalitas bahkan perang sekali pun menjadi sarana bisnis hiburan ditelevisi. Kita seakan berkompromi untuk membiarkan hal tersebut diekspos dan tayangkan dengan leluasa. Menjadikannya sebagai hal yang lumrah untuk ditonton. Bagaimana pengaruh film-film atau sinetron membentuk kebiasaan baru dalam masyarakat. Ia berkembang menjadi animo yang tak habis-habisnya. Lihat saja bagaimana komoditi pencitraan juga digunakan oleh pemerintah untuk mendukung kebijakan, sarana kampanye partai-partai, mengemasnya menjadi begitu indah dan puitis namun pada realitasnya semua itu hanya dijadikan objek untuk mencari keuntungan.

Tidak dipungkiri lagi, televisi kini telah membangun ideologinya sendiri, ia menjadi penentu apa yang khalayak butuhkan, menjadi media sasaran yang disukai khalayak dan pembentuk opini khalayak. Kini televisi menjadi sumber terpercaya bagi khalayak atas pembenaran suatu peristiwa. Harus diakui, televisi memang menjadi lahan pendidik jitu, ia menjadi agen perubahan dalam tatanan masyarakat, ia seolah-olah menjadikan penonton sebagai boneka yang dapat ia arahkan sesuka hati sesuai dengan keinginan dan tujuannya. Hingga saat ini, televisi masih menjadi momok komodifikasi budaya dan pencipta krisis demokrasi yang sesungguhnya.

WARTAWAN IDEAL


    
       
    Menurut kamus jurnalistik, Wartawan berasal dari kata “warta” yang berarti kabar atau informasi terbaru. Wartawan merupakan orang yang secara rutin melakukan aktivitas jurnalistik, yakni kegiatan mencari, meliput, menulis, menyusun, menyunting dan menyebarluaskan berita atau informasi melalui media masa. Wartawan sesungguhnya adalah sebuah profesi karena memiliki 4 hal yakni kebebasan, panggilan & keterikatan dengan pekerjaan, keahlian dan tanggung jawab. Menjadi seorang wartawan tentu tidak mudah, Ia harus memiliki kemampuan dan pengetahuan jurnalistik yang memadai. Wartawan harus memiliki sejumlah bekal yang sifatnya fundamental, elementer, dan komplementer. Secara sederhana, bekal tersebut dapat diformulasikan dalam 5 (lima) prinsip utama yaitu:


§  Pertama, seorang wartawan harus memiliki basic science (ilmu dasar) terkait dengan ilmu komunikasi massa untuk konsentrasi studi jurnalistik. Melalui basic science tersebut, seorang wartawan akan memiliki paradigma jurnalisme yang lebih sistematis dan terbingkai secara terukur. Dengan demikian, paradigma jurnalisme tersebut, dapat menjadi back mind  yang memandu wartawan dalam melaksanakan tugasnya.
§  Kedua, memiliki basic skill (keterampilan dasar).  Basic skill tersebut akan menjadi alat utama bagi wartawan dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Tanpa basic skill, seorang wartawan akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas jurnalistiknya. Betapa tidak, karena tugas jurnalistik bukanlah hal yang mudah dan bisa dilaksanakan oleh sembarang orang dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah terlatih secara khusus.
§  Ketiga, terikat dan patuh pada aturan hukum serta etika moral profesi. Sebagai sebuah profesi, tidak bisa tidak ia harus terikat dengan kode etik. Kode etik inilah yang membingkai dan memandu wartawan agar tidak melenceng atau mengkhianati profesinya dalam berkarya. Hukum dan Kode Etik tersebut, juga menjadi jaminan dan tempat perlindungan masyarakat, manakala wartawan telah melenceng dan mencederai kepentingan publik.
              Dibandingkan dengan ketaatan dan keterikatan pada aturan hukum, menaati etika moral profesi, jauh lebih sulit dan kompleks. Demikian kata  John C Merril wartawan kawakan Amerika. Tidak heran, jika harian terkemuka seperti Wall Street Journal dalam salah satu tajuknya, menuliskan bahwa; “Kita akan terpaksa membunuh etika sebelum etika membunuh kita.’’  Sekaitan dengan problem etika tersebut, Ketua Dewan Pers  Bagir Manan menyatakan, bahwa dari sejumlah aduan masyarakat terkait dengan kasus pers, terdapat sekitar 80 % merupakan pelanggaran kode etik pers.
§  Keempat, memiliki sense of arts. Kerja jurnalistik adalah kerja yang memerlukan sentuhan seni, yaitu seni saat mencari, menulis dan menyampaikannya, sehingga khalayak penerima menikmati keindahan sajiannya. Dengan demikian, karya jurnalistik seorang wartawan tidak hanya membuka cakrawala rasio tetapi juga menyentuh perasaan terhalus bagi siapa saja yang menikmatinya. Melalui sentuhan seni, sebuah berita yang mengandung kritikan tajam menghunjam, tidak akan membuat obyek sasarannya tersudut dan tersinggung. Tetapi sangat boleh jadi, justru tersadarkan secara manusiawi.
§  Kelima, memiliki visi sosial kemasyarakatan. Seorang wartawan, haruslah memahami dan menyadari bahwa ia mengabdi untuk kepentingan masyarakat. Ia wajib memahami dan menghayati gerak denyut nadi masyarakat dimana ia bertugas. Dengan demikian, ia dapat membimbing kemana dan bagaimana seharusnya masyarakat tersebut berubah.

Wartawan sering disebut jantung jurnalisme. Pada dasarnya sebuah media yang dikelola oleh sumberdaya wartawan yang cakap dengan menajemen yang baik selalu memiliki peluang lebih menjadi media yang bermutu, diper­caya khalayak, dan mempunyai komunitas pembaca yang jelas. Tetapi tidak mudah untuk mendapatkan wartawan yang cakap dengan moral dan mentalitas yang baik. Banyak yang cakap, tetapi akhlak dan mentalitasnya kurang . Banyak yang memiliki budi pekerti baik, tetapi kecakapannya rendah. Hasilnya, hanya sedikit yang memiliki kelengkapan sebagai seorang wartawan yang ideal, yakni yang cakap menghasilkan karya-karya jurnalistik yang baik dan bermutu sekaligus punya budi pekerti yang baik. Wartawan yang baik, harus memiliki sejumlah sifat yang harus ditanam dan dipupuk secara terus menerus, yaitu:
1. Minat yang mendalam terhadap manusia dan apa yang terjadi dengan masyarakatnya; 2. Pandai membawa diri dan selalu bersikap ramah tamah terhadap segala jeniskaraktermanusia; 3.mampu membangun kepercayaan (trust) orang terhadap dirinya; 4. Terampil berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia dan akan lebih baik lagi,jika menguasai berbagai bahasa asing; 5. Memiliki daya endus (meneliti)yang kuat dan setia kepada kebenaran; 6. Teliti dan bertanggungjawab; 7. Ikhlas mengerjakan beban kerja melebihi tugasnya; 8. Mampu bekerja lebih cepat; 9. Selalu bersikap objektif;  10. Memiliki minat yang luas; 11. Memiliki daya analisis; 12. Bersifat reaktif; 13. Teliti dalam mengobservasi; 14. Hobi membaca; 15. Selalu memperkaya diri dengan menguasai banyak bahasa.
Kelimabelas sifat dan kemampuan tersebut, menjadi syarat ideal seorang wartawan profesional. Tentu, kesemuanya tidak langsung termiliki sekaligus. Tetapi berproses secara continue dan simultan seiring dengan kematangannya secara pribadi selaku wartawan yang ingin lebih profesional. Betapa tidak, hal ini dikarenakan masyarakat sangat membutuhkan wartawan yang berkompeten. Oleh  sebab itu Profesionalisme wartawan sangat dijunjung tinggi. Seperti kita ketahui, wartawan merupakan aktor utama lembaga pers yang memiliki kekuatan untuk memengaruhi publik melalui informasi, selain itu wartawan memiliki serangkaian hak istimewa dalam menjalankan profesinya. Profesionalisme wartawan memiliki tiga arti:
o   pertama, profesional adalah kebalikan dari amatir;
o   kedua, sifat pekerjaan wartawan menuntut pelatihan khusus;
o   ketiga, norma-norma yang mengatur perilakunya fokus pada kepentingan khalayak.

Selanjutnya terdapat dua norma yang diidentifikasikan, yaitu: norma teknis (keharusan menghimpun berita dengan cepat, keterampilan menulis dan menyunting, dsb.), dan norma etis (kewajiban kepada pembaca serta nilai-nilai seperti tanggung jawab, sikap tidak memihak, sikap peduli, sikap adil, objektif, yang semuanya harus tercermin dalam produk penulisannya).

 Dengan profesionalisme yang tinggi pada diri wartawan, ia akan senantiasa menghormati martabat setiap individu dan hak-hak pribadi warga masyarakat yang diliputnya. Demikian pula sebaliknya, seorang wartawan akan dapat menjaga martabatnya sendiri karena hanya dengan cara itu ia akan mendapat kepercayaan masyarakat dalam menjalankan tugasnya sebagai wartawan profesional. Untuk mencapai hal ini, wartawan perlu memiliki kedewasaan pandangan dan kematangan pikiran.  Wartawan harus memiliki landasan unsur-unsur yang sehat tentang etika dan rasa tanggung jawab atas perkembangan budaya masyarakat di mana wartawan itu bekerja. Yang perlu dingat adalah bahwa dalam bertindaknya, wartawan selalu membawa dua  hak yang penting yaitu : hak untuk tahu dan hak untuk memberi tahu pada khalayak.




Sumber :

http://puisidihas.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5707:wartawan-itu-tidak-gampang&catid=12:refleksi&Itemid=82
http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/10/15/mencari-sosok-wartawan-idealis-495819.html
http://bugisposonline.com/bagaimanakah-wartawan-profesional-itu.htm
http://giftalvina.blogspot.com/2009/03/ciri-ciri-wartawan-profesional-serta.html
http://bejurnal.blogspot.com/2012/04/profesionalisme-wartawan-dan-wartawan.html